MENITI CAHAYA HIKMAH

Parabel, Filsafat, dan Tasawuf dalam Mendidik Jiwa

sampul depan meniti cahaya hikmah 1054x1492 (1)

Meniti Cahaya Hikmah: Parabel, Filsafat, dan Tasawuf dalam Mendidik Jiwa merupakan perjalanan reflektif yang mengajak pembaca kembali menengok kedalaman dirinya di tengah dunia yang semakin kaya informasi, tetapi tidak selalu bertambah bijaksana. Buku ini lahir dari kegelisahan terhadap manusia modern yang semakin mampu menjelaskan dunia, namun kerap kehilangan kemampuan memahami dirinya sendiri; pengetahuan bertambah, sementara kejernihan hati dan kedewasaan ruhani belum tentu mengikutinya.

Melalui puluhan parabel tentang pengembara, cermin, cahaya, pohon, burung, sungai, benih, waktu, dan berbagai pengalaman keseharian, pembaca diajak memasuki persoalan-persoalan mendasar tentang rahmat dan amal, ikhtiar dan tawakal, ego dan penghambaan, ambisi dan penempatan diri, kecemasan, syukur, harapan, kebebasan batin, serta hubungan manusia dengan Tuhan. Parabel tidak digunakan sekadar sebagai penghias narasi, melainkan sebagai metode pendidikan jiwa: cerita membuka ruang bagi pembaca untuk menemukan makna melalui kesadarannya sendiri.

Keistimewaan buku ini terletak pada perjumpaan antara khazanah tasawuf Islam dan pemikiran filsafat serta ilmu-ilmu kontemporer. Gagasan Al-Ghazali, Ibn ‘Athaillah, Mulla Ṣadrā dan tradisi spiritual Islam didialogkan dengan pemikiran Paul Ricoeur, Kierkegaard, Heidegger, Gadamer, Levinas, Viktor Frankl, dan berbagai perspektif psikologi, sosiologi, serta epistemologi. Pertemuan tersebut tidak dimaksudkan untuk mempertentangkan tradisi Timur dan Barat, melainkan memperlihatkan bahwa pencarian tentang kebenaran, makna, dan kedalaman manusia merupakan dialog panjang yang melintasi ruang dan zaman.

Setiap pembahasan bergerak dari kisah sederhana menuju refleksi filosofis dan epistemik, kemudian menggugat pembaca melalui paradoks dan satire. Manusia diajak mempertanyakan kembali kecenderungan menghitung amal sebagai prestasi, memaksakan kehendak kepada kenyataan, mengejar apa yang belum dimiliki, mengendalikan sesuatu yang berada di luar kuasanya, serta menjadikan kesalehan sebagai citra diri. Dengan cara itu, filsafat tidak berhenti sebagai permainan konsep, sementara tasawuf tidak berhenti sebagai terminologi spiritual; keduanya dipertemukan sebagai jalan untuk membersihkan cara berpikir sekaligus mendidik cara merasa.

Pada akhirnya, Meniti Cahaya Hikmah bukanlah buku yang menawarkan jawaban final tentang kehidupan. Ia adalah undangan untuk berjalan, berhenti, bercermin, dan kembali menjadi murid. Tujuannya bukan membuat pembaca merasa semakin mengetahui banyak hal, melainkan menuntunnya menuju hati yang lebih rendah, pandangan yang lebih jernih, ego yang semakin tipis, dan penghambaan yang semakin tulus kepada Allah. Sebab hikmah sejati tidak menjadikan manusia merasa lebih tinggi karena pengetahuannya, tetapi semakin sadar akan keluasan rahmat Tuhan dan keterbatasan dirinya.

Penulis:
Dr. Jasminto

Editor: Dr. Siti Rofi’ah
Tata Sampul: Ahmeda Sava Fusena
Tata Isi: Hameda Vada Mehat

Oktober, 2026

386 hlm.; 14,8 cm × 21 cm

ISBN:

Diterbitkan oleh:
PT. Filosufi Press Indonesia

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *